Proyek Pembangunan Waduk Tukul, Pacitan

24 Juli 2017


Brantas Abipraya Optimis Selesaikan Proyek Sesuai Target

Majalah Techno Konstruksi - Waduk yang berlokasi di Desa Karanggede, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, bermanfaat untuk penyediaan air irigasi 600 liter/detik, untuk air baku RKI 300 liter/detik, serta untuk pemeliharaan sungai 50 liter/detik. Juga bermanfaat untuk konservasi daerah aliran sungai (DAS), serta pengendalian banjir maupun untuk perikanan air tawar, pariwisata dan olahraga air, yang dikerjakan oleh PT Brantas Abipraya (Persero) selaku kontraktor pelaksana.

Kecamatan Arjosari merupakan salah satu dari 12 Kecamatan yang ada di Kabupaten Pacitan, yang terletak di sebelah utara Ibukota Kabupaten Pacitan, berbatasan sebelah utara dengan Kecamatan Nawangan, sebelah selatan dengan Kecamatan Pacitan, sebelah timur dengan Kecamatan Tegalombo dan sebelah barat dengan Kecamatan Punung. Kecamatan Arjosari memiliki wilayah administrasi terdiri dari 17 Desa, 104 Dusun,  dengan  kepadatan penduduk rata-rata  331 hingga 484 jiwa/km, dengan luas wilayah 121,07 km².

Dari luasan tersebut sebagian besar berupa perbukitan ±85%, yang sangat strategis di fungsikan sebagai lahan pertanian, perkebunan, kehutanan, pertambangan dan  bisa difungsikan sebagai daerah penyangga tanah dan air, serta menjaga keseimbangan ekosistem di Kabupaten Pacitan pada umumnya dan Kecamatan Arjosari pada khususnya.

Sementara itu, sebanyak 43 dari 172 desa atau kelurahan di Kabupaten Pacitan, rentan krisis air bersih saat musim kemarau sejak tahun 2013.  Puluhan desa  berada di 12 kecamatan, yakni Kecamatan Donorojo, Punung, Pringkuku, Pacitan, Kebonagung, Tulakan, Ngadirojo, Sudimoro, Arjosari, Bandar, Nawangan, dan Tegalombo, potensi kekeringannya merata di seluruh wilayah. Untuk mengatasi masalah tersebut, dibangunlah Bendungan Tukul di Desa Karanggede, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, merupakan waduk yang pertamakalinya dibangun di Kabupaten Pacitan.   

Balai  Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Ir Yudi Pratondo, MM, mengungkapkan : “Saat ini BBWS Bengawan Solo menangani proyek multiyears yang dibagi dalam  22 paket pekerjaan, baik itu supervisi, konsultan, dan kontraktual. Antara lain  5 proyek bendungan, 10 supervisi, 4 irigasi, 1 air baku, 2 sungai pantai. Semuanya sedang dilaksanakan termasuk 4 proyek bendungan, kecuali 1 proyek bendungan karena baru saja menyelesaikan pembebasan lahan.”

Selanjutnya, sambung Yudi, proyek PJSA irigasi dan air baku ada 5 paket. Proyek PJSA ini juga sedang dilaksanakan dengan progres rata-rata 20 an % (per April 2017-red). Sementara ada sisa satu proyek bendungan yang belum bisa dilaksanakan, yakni Bendungan Pidekso, karena tender dan kontrak paling terakhir dari 5 proyek bendungan yang ada. Selain itu, juga disebabkan masalah tanah yang sangat kompleks. Namun, PPK bisa melakukan pendekatan terhadap warga, yang pada akhirnya selesai dengan kondusif. Rencana bulan depan akan membanyar Rp 250 milyar untuk biaya lahan yang akan dibebaskan. Padahal biasanya paling banyak membayar untuk pembebasan lahan dalam setahun sekitar Rp 100 milyar. Sementara kebutuhan dana untuk biaya pembebasan lahan tersebut kurang lebih Rp 450 milyar.

“Targetnya tahun ini dibayar semua, tetapi kami punya skedul dua tahun yaitu Rp 250 milyar dibayar tahun ini, dan Rp 250 milyar lagi tahun depan. Tetapi kalau dananya ada akan dibayar semua tahun ini. Diharapkan tahun ini masalah tanah selesai dan tahun depan sisanya, sehingga masalah pembebasan lahan beres di Proyek Bendungan Pidekso dan selanjutnya bisa konstruksi,” ujarnya.

Lebih lanjut Yudi mengungkapkan : “Kami mempunyai 16 kontrol poin untuk menentukan elevasi tinggi muka air di Sungai Bengawan Solo sepanjang 600 km, salah satunya di Curuk. Sebelumnya kami sudah membangun tanggul untuk Q10 tahun, tetapi pada kondisi tertentu air melimpah keluar dari tanggul, sehingga tidak aman untuk  Kota Solo.”

Sekarang sudah kontrak untuk membangun tanggul lagi, didesain Q50 tahun dengan debit 1600 m3/detik sampai dengan 1800 m3/detik di lokasi titik poin di Curuk supaya aman. Kontrak baru tersebut dengan membangun tanggul sepanjang 5 km, yaitu tanggul dan revertment di sepanjang Sungai Bengawan Solo yang ada di Kota Solo. Selain itu, ada anak sungai yang masuk ke Sungai Bengawan Solo di Kota Solo yaitu Sungai Kalipepe, dimana Kota Solo semakin berkembang sehingga sungainya menjadi semakin kecil. Padahal sebelumnya sudah dibuat sodetan di Sungai Kalipepe,  namanya menjadi Sungai Kalianyar mengalir langsung terbuang ke Sungai Bengawan Solo.

 “Saat ini kami mengerjakan tanggul di Sungai Bengawan Solo dari Curuk sepanjang 5,4 km. Kami juga menata Kalipepe dengan membuat jalan masuk selebar 3 m sampai dengan 4 m untuk jalan orang. Kalipepe dibersihkan dan rumah-rumah sekitar Kalipepe tidak lagi membelakangi sungai tetapi menghadap ke arah sungai,” ujarnya.

Pekerjaan tersebut untuk Kalipepe hilir panjang 8,6 km, dan sekarang pelaksanaan masih sekitar 2 km. Selain Kalipepe hilir, kami juga menata Kalipepe hulu panjang sekitar 10 km dan lokasinya tidak jauh dari  rumah Presiden Djoko Wi. Berikutnya, Bendung Karet Tirtonadi  juga sedang dilaksanakan dan diharapkan awal tahun 2019 selesai.

Kepala Satker SNVT Pembangunan Bendungan BBWS Bengawamn Solo, Duki Malindo, ST, MCM, menambahkan di waktu yang berbeda: “SNVT Bendungan dibentuk tahun 2014, dan kontrak  proyek pembangunan 5 bendungan pada tahun 2013 dan 2014. Antara lain, Bendungan Gondang, Bendungan Bendo, Bendungan Gongseng, Bendungan Tukul, Bendungan Pidekso.” 

Selain itu, sambungnya, rehabilitasi Bendungan Wonogiri dengan membuat closure deck, dan  masalah utamanya sedimentasi sebelum waktunya. Closure deck yang memisahklan sedimentasi dengan air bersih, bertujuan untuk memperpanjang  masa guna waduk. Ada satu lagi Bendungan Jelantah di Kabupaten Karanganyar yang akan dibersihkan pada tahun  2018 nanti.

Kendala utama di proyek bendungan adalah masalah lahan, lanjut Duki Malido, salah satu contoh Bendungan Pidekso, yakni masalah lahan kehutanan yang membutuhkan waktu cukup lama untuk menyelesaikannnya. Proyek Bendungan Pidekso kontrak pada akhir tahun 2014, tetapi pembebasan tanah baru selesai Juni 2017 artinya masalah lahan di proyek Bendungan Piddekso membutuhkan waktu hingga 3 tahun. Hal itu yang menyebabkan proyek Bendungan Pidekso belum bisa dilaksanakan pembangunannya.

“Proyek-proyek bendungan lainnya dengan progres proyek yang sedang dilaksanakan, antara lain yang sudah tahap pengelakan sungai adalah Proyek Bendungan Gondang, dan mulai penimbunan main cofferdam serta penggalian pondasi bendungan. Sedangkan Bendungan Bendo akan melaksanakan pengelakan sungai, sementara Bendungan Tukul masih tahap penggalian terowongan tetapi masih pada sisi oulet,” ujarnya.

Pelaksanaan Proyek Waduk Tukul

Yudi Pratondo mengungkapkan, pengadaan tanah di Proyek Pembangunan Waduk Tukul merupakan pengadan tanah yang paling cepat, kurang lebih seluas 77 ha dan hampir seluruhnya milik masyarakat. Pada awalnya sulit, tetapi setelah dilakukan sosialisasi  beberapa kali akhirnya masyarakat seratus persen menyetujui.

Progres proyek Bendungan Tukul sekarang ( awal Mei 2017-red) 35% per hari termasuk cepat, ujarnya. Skedul proyek memang terlambat, seharusnya tahun 2016 selesai. Namun, karena pengadaan tanahnya butuh waktu lama, sehingga perlu dilakukan reskedul kontrak selesai proyek di tahun 2019.

Duki Malindo menambahkan, proyek Bendungan Tukul  mempunyai tantangan yang sangat ekstrim dari sisi topografi, dimana setiap proyek bendungan mempunyai permasalahan yang berbeda  dari proyek bendungan yang lain. Salah satu kesulitan Bendungan Tukul, topografinya sangat curam sehingga memerlukan kerja yang ekstra hati-hati. Selain curam, kondisi batuan yang di inlet mudah sleking atau jika digali maka udara dan air bila bersatu menjadikan batuan itu cepat lapuk.

“Kasus yang sama terjadi di Bendungan Jati Gede, tetapi yang lebih mencekam di Bendungan Tukul karena topografinya sangat curam dan terjal sekitar 45 derajat, dan  jalan kerja  sangat mepet dengan tebing. Sehingga kendaraan berat kesulitan untuk manuver terutama pada saat hujan,” ungkapnya.  

Saat ini pekerjaan galian di terowongan oulet di proyek Bendungan Tukul, seharusnya bisa dikerjakan di kedua sisi oulet dan inlet tetapi karena ada masalah geologi dan topografi belum bisa dikerjakan dari dua arah. Jika dilihat dari pondasi Bendungan Tukul cukup bagus, tetapi di sisi lain ada kesulitan untuk mencari stockpill dan disposal yaitu tempat penyimpanan dan pembuangan material proyek mengalami kesulitan, karena kondisi lahan di proyek Bendungan Tukul sangat curam.

PPK Bendungan III, Ali Rahmat, ST, MT, mengatakan: “Proyek Pembangunan Bendungan Tukul berdasarkan kontrak mulai 19 Desember 2013 dan selesai Desember 2017. Namun, pembebasan lahan selesai pada tahun 2016 dan sekarang tanah sudah bebas semua seluas 77 ha. Pelaksanaan proyek mulai dikerjakan awal Maret 2016,  dan saat ini (awal Mei 2017-red) progres proyek  35% deviasi +3 %.”

 Pada pekerjaan galian terowongan pengelak menggunakan metode blasting karena kondisi geologis. Hingga saat ini  pekerjaan galian terowongan bisa dikerjakan di bagian outlet, sedangkan di inlet sering terjadi longsor. Untuk mengatasi masalah tersebut, kami mendatangkan Tim Komisi Keamanan Bendungan yang memberi saran melakukan  perkuatan tebing dan memasang portal untuk menahan runtuhan, dan sekarang sudah trial blasting di inlet. Sementara target pengalihan sungai pada November 2017.

Kendala yang spesifik di proyek Bendungan Tukul, sambung Ali, adalah longsor dan banjir debris yakni banjir yang membawa batu-batuan dan pohon-pohon dari hulu. Kondisi Bendungan Tukul ini berada di lokasi yang curam, dan kondisi medannya ekstrim. Kondisi tebing yang curam membuat area kerja jadi terbatas. Untuk mengejar progres, dilakukan 3 shift 7 hari jika cuaca cerah tetapi jika hujan dilakukan 2 shift.

“Target pengalihan sungai pada November 2017. Kemudian pada Februari 2018 melaksanakan penimbunan tubuh bendungan, dan target pada Februari 2019 pekerjaan penimbunan selesai,” ujarnya.

Team Leader PT Mettana Eng.Consultant Bandung, Ir Wahyu Poernomo, mengungkapkan : “Perubahan desain yang terjadi di proyek ini, yaitu pertama adanya perbedaan topografi ketika didesain dengan kondisi di lapangan adanya perbedaan arah utaranya. Kedua, jalan eksisting lebarnya hanya 2,5 – 3 meter.”

Lebar jalan eksisting menjadi kendala, karena sebelah kanan adalah sungai bila dilihat dari arah masuk dan sebelah kiri tebing. Idealnya jalan akses lebar 5 meter. Oleh sebab itu, harus memotong tebing sesuai kondisi jalan eksisting yang lebarnya hanya 3 sampai 4 meter dan harus membuat drainase baru.

Karena tebing-tebing cukup curam ada di sisi jalan, sambung Wahyu, sehingga untuk melebarkan jalan hingga 5 meter perlu dilakukan pemotongan tebing, dan di tempat tertentu harus memasang penahan tanah. Selain itu,  perlu membuat sistem drainase yang  disesuaikan dengan naik turunnya jalan. Hal itu belum ada dalam desain awal. “Berikutnya, desain awal pada jembatan lebarnya 22 meter tetapi kondisi di lapangan ternyata harus 26 meter, pada akhirnya jembatan dibangun di hilir,” ungkapnya.

Lingkup pekerjaan

Project Manager Pembangunan Waduk Tukul- PT Barantas Abipraya (Persero), Ahmad Sabiq Eko.S, ST, MM, mengatakan : “Lingkup pekerjaan di proyek ini adalah pekerjaan persiapan, pekerjaan jalan akses, bangunan pengelak (tunnel), bendungan pengelak (cofferdam), tubuh bendungan utama (main dam), bangunan pelimpah (spillway), dan bangunan pengambilan. Sedangkan skup pekerjaan utama terdiri dari spillwaymain dam , tunnel, dan cofferdam. Sementara itu, tipe Bendungan Tukul adalah tipe random dengan inti tegak, kapasitas waduk 8, 680 juta m3, luas lahan total 77,34 ha. Kendala yang berkaitan dengan pembebasan lahan sudah terlewati.”

Proyek mulai pelaksanaan sejak tahun 2015, lanjut Sabiq, tetapi hanya sebatas jalan akses dari Desa Banyu Anget menuju Desa Karangrejo 3,4 km, dan tahun 2016 baru bisa mulai mengerjakan jalan akses 1,6 km yang menuju Desa Karanggede. Sementara pekerjaan mayor belum bisa dikerjakan secara maksimal karena ada spot-spot lahan yang belum bebas.

Panjang total jalan akses 8 km, yakni 4 km sebelah kiri dan 4 km sebelah kanan, dan total luas lahan untk jalan akses adalah 2,5 ha. Pekerjaan bisa dilaksanakan secara frontal mulai Januari 2017 setelah ada pembebasan lahan yang ketiga di bulan Desember 2016.

 

“Kendala lainnya adalah pada pekerjaan intake terowongan pengelak. Seharusnya pekerjaan bisa dilakukan penggalian di inlet dan outlet. Namun, terhambat karena ada masalah pada struktur geologisnya,” ujarnya.

 

Di intake yang seharusnya bisa melaksanakan penggalian di dua arah, lanjut Sabiq, yakni dari inlet dan outlet, tetapi ternyata hanya bisa mengerjakan penggalian di inlet. Sementara di outnlet ada masalah di struktur geologis. Selain itu, dari desain galian terlalu tegak karena keterbatasan lahan dari hasil pembebasan lahan di tahun 2015.

“Padahal kami memiliki target tembus terowongan di bulan November 2016 dan dapat melakukan pengalihan sungai di bulan April atau Mei 2017, dengan asumsi di bulan Mei curah hujan sudah berkurang. Selanjutnya, pekerjaan penggalian bisa dilakukan di inlet mulai akhir April 2017, dengan mengurangi beban tanah di atasnya dengan cara pemotongan tebing. Kemudian kami protect dinding tebing dengan menggunakan shotcrete,” jelasnya.

 

 Antisipasi berikutnya, supaya bisa melakukan penggalian di terowongan dan terhindar dari longsor kami menggunakan portal  material baja H-beam 25. Hal itu diperlukan untuk mengantisipasi jika terjadi longsoran, agar pekerja yang ada di bawahnya masih aman. Portal sepanjang 12 meter di depan terowongan, merupakan pekerjaan tambah. Sedangkan di dalam terowongan sudah ada pengaman sendiri terbuat dari H beam. Pada saat terowongan diledakkan, terowongan sudah diamankan dengan menggunakan steel support dan itu sudah ada dalam kontrak. 

“Tinggi dinding pengaman tebing berbeda-beda dan dipasang spot-spot dengan ketinggian yang berbeda-beda pula, ada yang tingginya 1 meter sampai dengan 16 meter  mengingat kontur lahan di Waduk Tukul untuk mencari lahan yang datar sangat sulit. Kami membangun sarana direksikit membutuhkan waktu 3 sampai dengan 4 bulan, hanya untuk  dapat lahan datar. Itupun  tidak bisa langsung kami gunakan, harus diproteksi lebih dulu dengan ketinggian sampai dengan 15 m, “ ungkapnya.

Sedangkan perubahan desain dilakukan pada spillway, ada perubahan di as spillway.  Penggeseran as nya sekitar 3 derajat karena kondisi geologi, karena kondisi batuannya tidak memungkinkan spillway itu dibangun. Berikutnya, perubahan desain di bendungan utama  karena kondisi geologis sehingga memerlukan treatment  karena jenis batuannya kurang bagus.

“Treatment menggunakan concrete cap sepanjang cap off sekitar 20 meter. Memanjang dengan lebar 20 m x panjang 100 meter. Selain itu, panjang terowongan juga ada perubahan dari yang semula panjang 323 meter menjadi 283 meter, karena ada kondisi geologi yang tidak memungkinkan dilakukan pekerjaan terowongan,” ujar Sabiq.

Manager Operasi SDA Divisi 2 PT Brantas Abipraya, Ir Anwar Khoirudin, MM, menambahkan: “Proyek Bendungan Tukul ini, memiliki tingkat kesulitan tinggi karena kondisi topografi yang berbukit. Dengan area genangan yang menyepit, dari segi pelaksanaan harus ekstra keras untuk membuat jalan akses karena ketinggian yang digali hampir 100 meter dari dasar sungai.”

Tebing yang curam potensi longsor tinggi, lanjut Anwar, dengan topografi seperti itu sulit membuat fasilitas seperti misalnya base cam maupun stockpill karena sulit mencari tanah yang lapang. Sehingga operasional alat terbatas, dan kurang maksimal karena kondisi topografi yang ekstrim. 

Perbaikan pondasi dengan cara grouting dilakukan pada tebing, ungkapnya, sedangkan grouting di bendungan utama  menunggu pengalihan sungai. Kendala topografi yang terjadi di proyek harus diantisipasi. Dana dari pusat tidak ada masalah, justru proyek harus membuat metode.

Metode untuk mengatasi kondisi lokasi yang ekstrim bahkan metode tiap 2 bulan harus berubah. Mengenai inovasi dan metode tidak boleh berhenti setiap pergerakan yang akan merubah, dan kami harus berfikir lagi seperti bagaimana menahan longsoran contohnya pada portal di depan tunnel.  Bagaimana menangani perbaikan pondasi disini dengan grouting, di pondasi inti harus kedap. Oleh sebab itu, diinjeksi dengan semen. Hal itu mulai dikerjakan di tebing yang curam.

Kalau cap concrete untuk mengantisipasi dengan batuan yang mudah lapuk, sehingga  harus di protect selebar 20 m sepanjang pondasi inti. Karena pekerjaan random, jadi pengaruh cuaca sangat tinggi, sehingga harus kondisi cuaca kering dan apabila hujan gerimis tidak bisa bekerja. Sedangkan timbunan dengan volume sekitar 1 juta m3 dan estimasi per hari timbunan 4.000 m3, supaya target tercapai pada Februari 2019 pekerjaan timbunan tubuh bendungan selesai.[]US