BUMN Konstruksi Dipastikan Menang Dalam Pelelangan Bendungan

07 Agustus 2018


Jakarta (7/8) - Badan Usaha Milik Negara dipastikan memenangi lelang konstruksi pembangunan Bendungan Randugunting dan Jlantah di Jawa Tengah dengan total harga perkiraan sendiri Rp 1,88 triliun.

Berdasarkan data Layanan Pengadaan Secara Elektronik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, kedua proyek bendungan tersebut telah melewati proyek prakualifikasi dan tiap-tia proyek meluluskan tiga kontraktor BUMN ke tahapan selanjutnya yakni evaluasi penawaran.

Pada proyek Bendungan Randugunting, ketiga kontraktor BUMN yang lulus prakualifikasi ialah PT Brantas Abipraya (Persero), PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk., dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Mereka menyisihkan 169 peseta lelang. Nilai harga perkiraan sendiri (HPS) pada paket proyek ini mencapai Rp 885,70 miliar.

Sementara itu, PT Brantas Abipraya, PT Wijaya Karya Tbk., dan PT Waskita Karya Tbk. Lulus prakualifikasi untuk proyek Bendungan Jlantah dengan menyisikan 77 peserta lelang. Nilai HPS pada paket proyek ini mencapai Rp 996,30 miliar.

Kepala Pusat Bendungan Kementerian PUPR Ni Made Sumiarsih mengatakan bahwa kontraktor BUMN yang lolos prakualifikasi untuk dua proyek bendungan tersebut akan terus melanjutkan ke tahap pelelangan sampai diketahui pemenangnya sebelum Oktober 2018.

“Proses selanjutnya terus untuk lelang. Kami targetkan kontrak proyek bendungan bisa dilakukan Oktober,” kata Sumiarsih saat dihubungi Bisnis, Senin (6/8).

Bendungan Randugunting terletak di Kabupaten Blora. Rencananya bendungan tersebut vmemiliki kapasitas sebesar 10,40 juta meter kubik dan diharapkan dapat mengairi lahan seluas 1.990 hektare serta menyediakan pasokan air baku sebesar 0,13 meter kubik per detik.

Sementara itu, Bendungan Jlantah berlokasi di Kabupaten Karanganyar . Bendungan ini nantinya akan memiliki manfaat peningkatan intensitas tanam irigasi yang sudah ada seluas 805 hektare, irigasi baru 688 hektare, pasok air baku 150 liter per detik, dan pembangkit listrik tenaga mikrohidro 625 kilowatt.

Sebelumnya, Direktur Keuangan dan SDM PT Brantas Abipraya Suradi Wongso mengatakan bahwa perusahaan membidik pengerjaan sembilan proyek bendungan yang dilelang pada tahun ini.

“Ada beberapa {proyek bendungan} yang dibuka {lelangnya}, tentu kami ikut juga,” ujarnya.

BUMN itu sejauh ini telah memenangi tiga paket proyek pembangunan bendungan yang lelangnya dibuka pada semester pertama 2018 oleh Kementerian PUPR. Perinciannya, PT Brantas abipraya divisi 2 memenangi lelang Bendungan Bener di Jawa Tengah untuk paket I dan IV dengan HPS masing-masing Rp 606,77 miliar dan Rp 1,40 triliun. Terakhir kali, kontraktor spesialis bendungan dan pengairan tersebut juga memenangi paket lelang Bendungan Sidan dengan nilai Rp 809,43 miliar.

Tahun ini, Kementerian PUPR menargetkan melelang 11 proyek bendungan, sedangkan tiga proyek bendungan dilelang tahun lalu. Sejauh ini, empat dari 11 proyek bendungan Tahun Anggaran 2018 dalam proses lelang yaitu Randugunting dan Jlantah di Jawa Tengah, Sadawarna di Jawa Barat, serta Beringin Sila di Nusa Tenggara Barat.

Sementara itu, lelang tujuh proyek lainnya direncanakan pada semester kedua tahun ini. Ketujuh proyek itu ialah Bendungan Digoel di papua, Manikin dan Mbay di Nusa Tenggara Timur, Bolango Hulu di Gorontalo, Rukoh di Aceh, Bagong di Jawa Timur, serta Tamblang di Bali.

Adapun, proses lelang tiga proyek bendungan TA 2017 yakni Tiga Dihaji di Sumatera Selatan, Bener di Jawa Tengah, dan Sidan di Bali sudah dirampungkan dan tengah menunggu izin perubahan output dari Kementerian Keuangan untuk bisa maju ke tahap penandatanganan kontrak.

SEGERA RAMPUNG

Sementara itu, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menjelaskan bahwa pembangunan sembilan bendungan dimulai sejak 2015 segera rampung. Bendungan tersebut ialah Rotiklot di Nusat Tenggara Timur; Tanju, Mila dan Bintang Bano di Nusa Tenggara Barat; Gondang dan Logung di Jawa Tengah; Sei Gong di Batam; Sindang Heula di Banten; serta Paselloreng di Sulawesi Selatan.

Dia menuturkian bahwa total kapasitas tampung dari sembilan bendungan tersebut akan mencapai 288 juta meter kubik.

Menurut menteri, rata-rata progres delapan bendungan tersebut sudah mencapai 80% - 90%, bahkan sudah ada yang selesai. Perinciannya, Bendungan Rotiklot dan Tanju sudah selesai dibangun dan tengah memasuki tahap pengisian air, sedangkan Tanju di Nusa Tenggara Barat sudah diresmikan pekan lalu.

“Nantinya setelah 65 bendungan rampung, daerah irigasi yang akan dipasok airnya dari bendungan akan bertambah menjadi 19% - 20%,” kata Basuki melalui siaran pers.

Basuki mengatakan bahwa program pembangunan bendungan diikuti oleh program irigasi premium yakni irigasi yang mendapat suplai air dari bendungan. Dengan demikian, bendungan yang dibangun dengan biaya mahal, dipastikan bisa mengalirkan air hingga ke sawah-sawah petani.

Pemerintah menargetkan 2015 hingga 2019 akan membangun 65 bendungan yang terdiri atas 49 bendungan baru dan 16 bendungan lanjutan. (Bisnis Indonesia, Irene Agustine)