Alumni UGM dan Penghobi Fotografi Abadikan Bendungan Kering Pertama di Indonesia Karya Abipraya

12 Februari 2020


Bekerjasama dengan Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada (KAGAMA), PT Brantas Abipraya (Persero) mengadakan event Kagama Yuk Motret di Proyek Bendungan Ciawi yang sedang dikerjakan Abipraya pada tanggal. 9 Februari 2020 kemarin.

Disela-sela kesibukannya, dihari Minggu saat acara berlangsung, Bambang E. Marsono (Direktur Utama Brantas Abipraya) menyempatkan hadir menyambut langsung para peserta Yuk Motret,  Bendungan Ciawi ini merupakan bendungan kering pertama di  Indonesia yang dibangun PT Brantas Abipraya. Menurut dia, bendungan tersebut mulai dibangun pada Desember 2016. Diharapkan akhir tahun 2020 secara keseluruhan bendungan ini sudah dapat berfungsi ikut mengendalikan debit ciliwung yang menuju Jakarta, walaupun secara kontraktual baru akan berakhir pada Mei 2021.

“Realisasi pekerjaan sampai dengan 7 Februari 2020 ini  sudah 45,02%. Bendungan Ciawi dibangun dalam rangka pengendalian banjir di wilayah hulu, DKI Jakarta,” kata Bambang.

Ketua PP Kagama Bidang Fasilitasi Alumni UGM ini juga menjelaskan, luas lahan yang dibebaskan guna membangun bendungan dengan kapasitas tampung air 6 juta m3 ini adalah 78 ha. Sementara itu, area konstruksinya seluas 20 ha. Dalam area konstruksi tersebut, kata Bambang, ada tiga bangunan utama: bangunan pengelak, spillway, dan bendungan utama.

Secara sederhana, bendungan kering yang memiliki konsep baru ini akan berfungsi ketika curah hujan tinggi sehingga debit sungai melampaui based flow atau debit normal. Saat musim kering atau hujan normal, debit sungai mengalir seperti biasa tanpa ada aliran yang tertahan. Selain itu, Bambang menerangkan bahwa bendungan kering tetap harus memenuhi standar keselamatan tinggi kendati tidak memiliki tampungan air seperti bendungan pada umumnya.

“Oleh sebab itu bendungan ini tetap dilengkapi spillway untuk menghindari  terjadinya over topping.  Bendungan ini berfungsi menahan air selama 4 sampai dengan 6 jam sebelum dirilis ke hilir menuju Jakarta,” sambung Bambang.

Lulusan Teknik Sipil UGM ini menyebut, setelah kelak beroperasi, Bendungan Ciawi ini dapat dikembangkan sebagai obyek pariwisata. Sehingga, katanya, membawa manfaat ekonomi bagi penduduk setempat. Bambang pun menilai kunjungan peserta kegiatan Kagama Yuk Motret ke Bendungan Ciawi merupakan hal positif.

“Kegiatan ini akan menambah pemberitaan dan jejak digital bagi Bendungan Ciawi.  Peserta Kagama Yuk Motret juga dapat mengenal lebih dekat bendungan kering (dry dam) pertama di Indonesia ini” kata Bambang.

“Sebaliknya, bagi pihak bendungan Ciawi, kegiatan ini  bermanfaat untuk menambah wawasan dan keterampilan pegawai  dalam hal kemampuan fotografi  untuk mengabadikan proses pembangunan bendungan,” tambahnya

Selain itu Project Manager Brantas Abipraya - Bendungan Ciawi, Wima Regianto Putra juga memberikan paparan proyek yang sedang dikerjakan kepada para peserta Kagama Yuk Motret.

Untuk menambah ilmu fotografi pada kegiatan yang bertema “Story Telling in Travel Photography” ini, dihadirkan sejumlah narasumber berpengalaman, yaitu Arbain Rambey (fotografer profesional), Marrysa Tunjung Sari (fotografer profesional & travel writer), Raiyani Muharramah (travel photographer & writer).